umyogyak SUN@RTI ANG DH~IR: bhs.inggeris XII

wellcome to the my bog

Tampilkan postingan dengan label bhs.inggeris XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bhs.inggeris XII. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

Penggunaan EYD Yang benar


Tanda baca

1.  Tanda Titik (.)

1.       Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh: Saya suka membaca buku.
Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan.
2.       Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Contoh:
  • Irwan S. Gatot
  • George W. Bush
Apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh: Anthony Tumiwa
3.   Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
  • Dr. (doktor)
  • S.E. (sarjana ekonomi)
  • Kol. (kolonel)
  • Bpk. (bapak)
4.   Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh:
  • dll. (dan lain-lain)
  • dsb. (dan sebagainya)
  • tgl. (tanggal)
  • hlm. (halaman)
5.   Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Contoh:
  • Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
  • 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
6.   Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh: Kota kecil itu berpenduduk 51.156 orang.
7.   Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Contoh:
  • Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.
  • Nomor Giro 033983 telah saya berikan kepada Mamat.
8.   Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi maupun di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
Contoh:
  • DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
  • SMA (Sekolah Menengah Atas)
  • PT (Perseroan Terbatas)
  • WHO (World Health Organization)
  • UUD (Undang-Undang Dasar)
  • SIM (Surat Izin Mengemudi)
  • Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
  • rapim (rapat pimpinan)
9.   Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
contoh:
  • Cu (tembaga)
  • 52 cm
  • l (liter)
  • Rp350,00
10.  Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
contoh:
  • Latar Belakang Pembentukan
  • Sistem Acara
  • Lihat Pula
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

2. Tanda Koma (,)

1.   Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.
Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.
2.   Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.
Contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
3.   Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Contoh:
  • Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
  • Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
4.   Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
Contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
5.   Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh:
  • Oleh karena itu, kamu harus datang.
  • Jadi, saya tidak jadi datang.
6.    Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
contoh:
  • O, begitu.
  • Wah, bukan main.
7.     Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata adik, "Saya sedih sekali".
8.   Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:
  • Medan, 18 Juni 1984
  • Medan, Indonesia.
9.    Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.
10.   Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.
11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Contoh:
  • 33,5 m
  • Rp10,50
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.
13. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
contoh: "Di mana Rex tinggal?" tanya Stepheen.

15. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
contoh: Rinto Jiang, S.E

3. Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
2. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh: Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nam.a-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar. 3.Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara
Misalnya:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
4..Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".

4. Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh:
  • Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
  • Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua                  : Borgx
Wakil Ketua         : Hayabuse
Sekretaris            : Ivan Lanin
Wakil Sekretaris   : Irwan Gatot
Bendahara           : Rinto Jiang
Wakil bendahara  : Rex
3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Borgx : "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
Rex    : "Siap, Boss!"
4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Contoh:
(i) Tempo, I (1971), 34:7
(ii) Surah Yasin:9
(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
5. Tanda titik dua dipakai untuk menandakan nisbah (angka banding).
Contoh: Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.
6. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tanda titik dua adalah tanda baca yang dilambangkan dengan dua titik berukuran sama yang diletakkan di tengah garis vertikal yang sama. Seperti halnya tanda baca lain, penggunaan tanda titik dua bervariasi antara berbagai bahasa dan bahkan pada bahasa yang sama pada periode yang berbeda. Sebagai aturan umum, tanda titik dua memberitahukan pembaca bahwa uraian setelah tanda ini memberi bukti dan menjelaskan, atau merupakan unsur dari apa yang sudah dijelaskan sebelum tanda tersebut.
tanda titik dua dipakai:
  1. Pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Contoh:
Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
  1. Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Contoh:
Ketua: Ahmad Wijaya
  1. Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Contoh:
Ibu: (meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"
  1. Di antara (i) jilid atau nomor dan halaman, (ii) bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

 

5.  Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh: anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan
Tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
2. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh:
  • p-e-n-g-u-r-u-s
  • 8-4-1973
3. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
Bandingkan:
  • ber-evolusi dengan be-revolusi
  • dua puluh lima-ribuan (20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).
  • Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah
4. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, (d) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (e) nama jabatan rangkap.
Contoh:
  • se-Indonesia
  • hadiah ke-2
  • tahun 50-an
  • ber-SMA
  • KTP-nya nomor 11111
  • sinar-X
  • Menteri-Sekretaris Negara
5. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
  • di-charter
  • pen-tackle-an
6.Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.
Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu ada ju-ga cara yang baru.
7. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Misalnya:
Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
Kukuran baru ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
Senjata ini merupakan alat pertahan-
an yang canggih.
8. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas
(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.

            Misalnya:
·         ber-evolusi
·         dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)
9. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap
Misalnya
se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara
10. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.
Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu ada ju- ga cara yang baru
11.Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.
Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu
telah disampaikan ....
Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau
beranjak ....
atau
Beberapa pendapat mengenai masalah
itu telah disampaikan ....
Walaupun sakit, mereka tetap tidak
mau beranjak ....
bukan
Beberapa pendapat mengenai masalah i-
tu telah disampaikan ....
Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma- u beranjak
6.  Tanda Pisah (–, —)
1a. Tanda pisah em (—) membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.
Contoh: Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar.
1b. Tanda pisah em (—) menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas.
Contoh:
Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
2a. Tanda pisah en (–) dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke', atau 'sampai'.
Contoh:
  • 1919–1921
  • Medan–Jakarta
  • 10–13 Desember 1999
2b. Tanda pisah en (–) tidak dipakai bersama perkataan dari dan antara, atau bersama tanda kurang (−).
Contoh:
  • dari halaman 45 sampai 65, bukan dari halaman 45–65
  • antara tahun 1492 dan 1499, bukan antara tahun 1492–1499
  • −4 sampai −6 °C, bukan −4–−6 °C
3.       Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas
Misalnya:
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah persepsi kita tentang alam semesta.
4.       Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'.
Misalnya:
1910—1945
tanggal 5—10 April 1970
Jakarta—Bandung
Catatan:
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

7.  Tanda Elipsis (...)

1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, misalnya untuk menuliskan naskah drama.
Contoh: Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.
2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan, misalnya dalam kutipan langsung.
Contoh: Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Contoh: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....

8.  Tanda Tanya (?)

1. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya.
Contoh:
  • Kapan ia berangkat?
  • Saudara tahu, bukan?
Penggunaan kalimat tanya tidak lazim dalam tulisan ilmiah.
2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Contoh:
  • Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
  • Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

 

9.  Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Contoh:
  • Alangkah mengerikannya peristiwa itu!
  • Bersihkan meja itu sekarang juga!
  • Sampai hati ia membuang anaknya!
  • Merdeka!
Oleh karena itu, penggunaan tanda seru umumnya tidak digunakan di dalam tulisan ilmiah atau ensiklopedia. Hindari penggunaannya kecuali dalam kutipan atau transkripsi drama.

 

 

 

10.  Tanda Kurung (...)

1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
Contoh: Bagian Keuangan menyusun anggaran tahunan kantor yang kemudian dibahas dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) secara berkala.
2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Contoh:
  • Satelit Palapa (pernyataan sumpah yang dikemukakan Gajah Mada) membentuk sistem satelit domestik di Indonesia.
  • Pertumbuhan penjualan tahun ini (lihat Tabel 9) menunjukkan adanya perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh:
  • Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a)
  • Pembalap itu berasal dari (kota) Medan.
4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Contoh: Bauran Pemasaran menyangkut masalah (a) produk, (b) harga, (c) tempat, dan (c) promosi.
Hindari penggunaan dua pasang atau lebih tanda kurung yang berturut-turut. Ganti tanda kurung dengan koma, atau tulis ulang kalimatnya.
Contoh:
  • Tidak tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919) (dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv) merupakan seorang pemimpin Ukraina.
  • Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919), dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv, merupakan seorang pemimpin Ukraina.
  • Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919) merupakan seorang pemimpin Ukraina. Dia juga dikenal sebagai Matviy Hryhoriyiv.

11,  Tanda Kurung Siku ([...])

1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Contoh: Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.

12.  Tanda Petik ("...")

1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Contoh:
  • "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
  • Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
  • Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
  • Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.
  • Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
  • Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
  • Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".
4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Contoh:
  • Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
  • Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

13,  Tanda Petik Tunggal ('...')

1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh:
  • Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
  • "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh: feed-back 'balikan'

 

14.  Tanda Garis Miring (/)

1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Contoh:
  • No. 7/PK/1973
  • Jalan Kramat III/10
  • tahun anggaran 1985/1986
2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata tiap, per atau sebagai tanda bagi dalam pecahan dan rumus matematika.
Contoh:
  • harganya Rp125,00/lembar (harganya Rp125,00 tiap lembar)
  • kecepatannya 20 m/s (kecepatannya 20 meter per detik)
  • 7/8 atau 7⁄8
  • xn/n!
3.Tanda garis miring sebaiknya tidak dipakai untuk menuliskan tanda aritmetika dasar dalam prosa. Gunakan tanda bagi  ÷ .
Contoh: 10 ÷ 2 = 5.
Di dalam rumus matematika yang lebih rumit, tanda garis miring atau garis pembagi dapat dipakai.
Contoh: \textstyle\frac{x^n}{n!}
15.Tanda penyingkat (apostrof)
1.       Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya: Ali 'kan kusurati (‘kan = akan )
               Malam ‘lah tiba (‘lah = telah )
  1 januari ’88 (’88 = 1988 )

cerpen

Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Mar Beranak di Limas Isa


Ada sebuah hikayat yang hendak aku terakan, tentang Bi Maryam istrinya Mang Isa. Perempuan yang telah melewati usia kepala empat, tetapi masih saja rajin beranak. Baiklah, untuk menuntaskan keingintahuan yang telah bersarang, kita buka saja cerita ini.
Oya, sebelumnya kita buat kesepakatan: Untuk memudahkan aku bercerita, kita singkat saja nama Bi Maryam menjadi Bi Mar, tersebab lidahku agak sulit menyebut namanya bila kuucapkan secara panjang. Jadi ketika aku menyebutkan nama Bi Mar, kau pahamlah kalau yang kumaksud adalah Bi Maryam istrinya Mang Isa, lantaran sangat banyak Bi Mar di dusun Tanah Abang.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
20 Maret 2011 at 09:35
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Malam di Kota Merah


Malam. Malam yang dingin. Angin seperti menghunus pisau dan mengiris setiap inci kulit waktu.
Pisau berkilat di mataku. Pisau yang sesungguhnya terarah dengan tepat di antara dua kening.
Cepatlah, sebelum tangan ini lepas dari kendaliku! Teriak lelaki itu dalam getaran yang hebat. Aku tak tahu apakah ia marah atau gentar. Suara keras, namun runtuh sebagai kemurungan. Aku mengambil dompet dan kuserahkan dengan gemetar pula. Ini masalah nyawa, Bung. Satu-satunya. Bukan kematian yang kutakutkan, namun janjiku untuk menemui seseorang tengah malam ini, membuatku tak mungkin mengambil resiko untuk mencumbui ketajaman pisau dan liar kegelisahan di sepasang mata yang nampak mulai berair itu. Ia menangis. Sungguh. Tangisan apa pula yang mengalir deras dari seorang perampok.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
13 Maret 2011 at 22:24
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Laron


Sedari pagi hujan terus mericis. Hingga menjelang magrib baru liris, menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika langit mulai gelap, dan lampu-lampu rumah dinyalakan, hujan sudah sempurna reda. Satu dua laron mulai muncul dan berputar-putar mengitari lampu di teras rumah. Semakin lama semakin banyak. Bahkan, beberapa sudah mulai menghambur ke dalam rumah, melewati ventilasi dan celah-celah pintu jendela.
Tanpa sepengetahuan bapak, aku membuka pintu depan, sedikit, supaya laron-laron itu bisa masuk ke dalam rumah, dan bisa kuajak bermain dan berbincang-bincang. Tak kurang dari satu menit, laron-laron itu sudah memenuhi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar. Berputar-putar berebut cahaya. Sayap-sayap kecil mereka bertebaran di mana-mana bagai potongan-potongan kertas yang sengaja disemburatkan di pesta ulang tahun atau perayaan-perayaan.
Aku berteriak girang sambil meniupi sayap-sayap laron yang luruh ke lantai. Indah sekali. Aku membayangkan saat itu sedang hujan sayap, sayap peri. Tapi, tiba-tiba bapak muncul dari kamarnya dan berteriak-teriak. Aku mengkerut.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
6 Maret 2011 at 22:46
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Pemburu Air Mata


Buat penggemar matahari, malam selalu menakutkan. Karena hanya pada malam, semua khayalan tentang iblis dan hantu memiliki tempatnya. Malam entah kenapa selalu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat.
Terkadang gemerisik angin terlembut pun entah kenapa tetap membuat helaan napas menjadi lebih berat. Malam adalah waktu di mana hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang menahbiskan dirinya pada kekuatan hati. Benar hanya orang yang berhati kuat yang akan berani menghadapi malam. Seperti para pemberani di desaku. Suatu tempat amat elok di kaki gunung Jaganmantri. Gunung yang kontur tanahnya menyerupai payudara ranum ibu yang baru melahirkan itu benar-benar sangat cantik. Ibu semesta begitu setiap kali ada orang yang bertanya tentang arti Jaganmantri.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
27 Februari 2011 at 23:56
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Salju di Leuven


(Kepada Maria Janakova)

Tidak lama waktu yang kita lalui. Tapi bukan berarti tidak banyak pula yang kita lakukan. Hanya dalam beberapa bulan kita berkenalan. Tetapi itu sudah cukup untuk membuat kita seperti teman lama yang tiba-tiba bertemu secara tak sengaja di tempat yang tak pernah direncanakan.
Aku masih ingat, kamu menjerit histeria dan memelukku ketika pertama kali tahu bahwa aku dari Indonesia. Ya, Indonesia, kamu sangat mencintai negeri itu. Entah mengapa, banyak orang yang pernah ke Indonesia, akan jatuh cinta dengan negeri itu. Dan bukan cinta sembarang cinta, tetapi cinta mati yang sangat mendalam. ”I love Indonesia so much,” katamu.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
20 Februari 2011 at 22:23
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Ketika Pohon Itu Masih Mekar


Perempuan berkebaya encim berwarna hijau itu menoleh kepadaku dari kursi anyaman plastiknya yang berkeriut rapuh. Tampak sekali bahwa kedatanganku telah mengalihkan pandangannya dari pohon cincau tua yang tumbuh di halaman lapang.
Bila kupikir-pikir, keberadaan pohon itu sendiri adalah sebuah keajaiban; suatu jenis ganjil yang tumbuh di tengah berkas-berkas pepohonan karet yang tertancap kokoh di tanah pedesaan ini. Sebuah rumah antik berdinding bilik nan apik dengan sentuhan cat putih berdiri di belakangnya. Kabel-kabel menjuntai yang merepet di sela-sela atap menjadi ornamen yang cukup kontras.
Aku memang berharap mendapati dirinya seperti ini. Rupanya, ia telah menempatkan kursinya dengan hati-hati di depan pohon cincau kesayangannya itu, kemudian duduk tafakur memandangi daun-daun hijaunya yang melambai lemah diterpa angin musim panas. Pikirannya tenggelam ke masa-masa silam; masa di mana akar-akar kuat pohon cincau merambat jauh dalam tanah, hingga menembus lantai tanah ruang tamu rumah. Aku ingat bahwa akar-akar mengganggu itu telah ditebas dan tanahnya diuruk rapat dengan semen, saat renovasi rumah lama.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
13 Februari 2011 at 21:05
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Kain Perca Ibu


Ada kebiasaan Ibu yang telah dilakukannya sejak menikah dengan Bapak. Ibu selalu menyimpan pakaian-pakaian yang memiliki arti begitu mendalam baginya.
Salah satunya adalah kebaya pengantin lengkap dengan kain batik pesisiran, rapi ia simpan di dalam koper kecil usang di bawah ranjang. Setelah ijab kabul sekitar lima puluhan tahun silam, kebaya brokat putih itu dikenakan untuk kedua kalinya ketika Mbak Ratih, kakak sulung kami, bersanding dengan lelaki pilihan hatinya di pelaminan.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
6 Februari 2011 at 10:21
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Perempuan Tua dalam Rashomon


Pemberitahuan
Setelah melakukan pengkajian dan menimbang berbagai masukan, cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon tulisan Dadang Ari Murtono, yang dimuat Kompas Minggu (30/1), dinyatakan dicabut dan tidak pernah termuat dengan berbagai alasan.
Redaksi
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
30 Januari 2011 at 00:03
Ditulis dalam Cerpen, Kontroversi
Ditandai dengan ,

Perempuan Tua dalam Kepala


Di dalam kepalaku hidup seorang perempuan tua pemarah yang gemar menghentak-hentakkan kaki dan berteriak-teriak. Begitu tuanya, dia menyerupai seonggok pohon kering-keriput, bungkuk, dan bengkok di sana-sini dengan sudut-sudut yang janggal. Suaranya seperti derit roda kekurangan minyak. Jika dia berteriak, aku terpaksa menutup telinga.
Dia menghuni sebuah rumah reyot dari batu tanpa jendela. Hanya ada satu pintu besi berkarat yang selalu berbunyi saat membuka dan menutup. Seluruh dinding rumah itu ditumbuhi lumut gelap yang lebat. Ulat-ulat gemuk berwarna hitam hidup dan beranak-pinak di dalamnya.
Baca entri selengkapnya »
Written by tukang kliping
23 Januari 2011 at 09:43
Ditulis dalam Cerpen
Ditandai dengan

Kak Ros


Begitu keluar dari kamar dan tak
sengaja menatap ke taman itu,
aku terpaku: Kak Ros,
perempuan hampir separo baya
itu, sedang membungkuk
menyorongkan wajahnya ke
rimbun tapak dara.
Tentu bukan sesuatu yang aneh kalau cuma menyorongkan wajah, tetapi ini, seperti kemarin kata Ben, bibir perempuan itu bergerak-gerak samar. Jadi, apakah benar, Kak Ros sedang bicara dengan daun-daun?
Baca entri selengkapnya »
S A vocabulary is commonly defined as "all the words known and used by a particular person".[1] Unfortunately, this definition does not take into account a range of issues involved in knowing a word.


Productive and receptive

The first major distinction that must be made when evaluating word knowledge is whether the knowledge is productive (also called active) or receptive (also called passive) and even within those opposing categories, there is often times no clear distinction. Words that are generally understood when heard or read or seen constitute a person's receptive vocabulary. These words may range from well-known to barely known (see degree of knowledge below). In most cases, a person's receptive vocabulary is the larger of the two. For example, although a young child may not yet be able to speak, write, or sign, he or she may be able to follow simple commands and appear to understand a good portion of the language to which he or she is exposed. In this case, the child's receptive vocabulary is likely tens, if not hundreds of words but his or her active vocabulary is zero. When that child learns to speak or sign, however, the child's active vocabulary begins to increase. Productive vocabulary, therefore, generally refers to words which can be produced within an appropriate context and match the intended meaning of the speaker or signer. As with receptive vocabulary, however, there are many degrees at which a particular word may be considered part of an active vocabulary. Knowing how to pronounce, sign, or write a word does not necessarily mean that the word has been used correctly or accurately reflect the intended message of the utterance, but it does reflect a minimal amount of productive knowledge.

Degree of knowledge

Within the receptive / productive distinction lies a range of abilities which are often referred to as degree of knowledge. This simply indicates that a word gradually enters a person's vocabulary over a period of time as more aspects of word knowledge are learnt. Roughly, these stages could be described as:
  1. Never encountered the word.
  2. Heard the word, but cannot define it.
  3. Recognize the word due to context or tone of voice.
  4. Able to use the word but cannot clearly explain it.
  5. Fluent with the word – its use and definition.

Depth of knowledge

The differing degrees of word knowledge imply a greater depth of knowledge, but the process is more complex than that. There are many facets to knowing a word, some of which are not hierarchical so their acquisition does not necessarily follow a linear progression suggested by degree of knowledge. Several frameworks of work knowledge have been proposed to better operationalise this concept. One such framework includes nine facets:
  1. orthography - written form
  2. phonology - spoken form
  3. reference - meaning
  4. semantics - concept and reference
  5. register - appropriacy of use
  6. collocation - lexical neighbours
  7. word associations
  8. syntax - grammatical function
  9. morphology - word parts

Types of vocabulary

Listed in order of most ample to most limited:[2][3]

Reading vocabulary

A person's reading vocabulary is all the words he or she can recognize when reading. This is the largest type of vocabulary simply because it includes the other three.

Listening vocabulary

A person's listening vocabulary is all the words he or she can recognize when listening to speech. This vocabulary is aided in size by context and tone of voice.

Writing vocabulary

A person's writing vocabulary is all the words he or she can employ in writing. Contrary to the previous two vocabulary types, the writing vocabulary is stimulated by its user.

Speaking vocabulary

A person's speaking vocabulary is all the words he or she can use in speech. Due to the spontaneous nature of the speaking vocabulary, words are often misused. This misuse – though slight and unintentional – may be compensated by facial expressions, tone of voice, or hand gestures.

Focal vocabulary

"Focal vocabulary" is a specialized set of terms and distinctions that is particularly important to a certain group; those with a particular focus of experience or activity. A lexicon, or vocabulary, is a language's dictionary, its set of names for things, events, and ideas. Some linguists believe that lexicon influences people's perception on things, the Sapir–Whorf hypothesis. For example, the Nuer of Sudan have an elaborate vocabulary to describe cattle. The Nuer have dozens of names for cattle because of the cattle's particular histories, economies, and environments. This kind of comparison has elicited some linguistic controversy, as with the number of "Eskimo words for snow". English speakers can also elaborate their snow and cattle vocabularies when the need arises.[4][5]

Vocabulary growth

Initially, in the infancy phase, vocabulary growth requires no effort. Infants hear words and mimic them, eventually associating them with objects and actions. This is the listening vocabulary. The speaking vocabulary follows, as a child's thoughts become more reliant on its ability to express itself without gestures and mere sounds. Once the reading and writing vocabularies are attained – through questions and education – the anomalies and irregularities of language can be discovered.
In first grade, an advantaged student (i.e. a literate student) knows about twice as many words as a disadvantaged student. Generally, this gap does not tighten. This translates into a wide range of vocabulary size by age five or six, at which time an English-speaking child will know about 2,500–5,000 words. An average student learns some 3,000 words per year, or approximately eight words per day.[6]
After leaving school, vocabulary growth reaches a plateau. People may then expand their vocabularies by engaging in activities such as reading, playing word games, and participating in vocabulary programs.

The importance of a vocabulary

  • An extensive vocabulary aids expressions and communication.
  • Vocabulary size has been directly linked to reading comprehension.[7]
  • Linguistic vocabulary is synonymous with thinking vocabulary.[7]
  • A person may be judged by others based on his or her vocabulary.

[edit] Native- and foreign-language vocabulary

[edit] Native-language vocabulary

Native speakers' vocabularies vary widely within a language, and are especially dependent on the level of the speaker's education. A 1995 study estimated the vocabulary size of college-educated speakers at about 17,000 word families[clarification needed], and that of first-year college students (high-school educated) at about 12,000.[8]

Foreign-language vocabulary

The effects of vocabulary size on language comprehension

Francis and Kucera[9] studied English texts totaling one million words and found that if one knows the words with the highest frequency, they will quickly know most of the words in an English text:
Vocabulary Size Written Text Coverage
1000 words 72.0%
2000 79.7
3000 84.0
4000 86.8
5000 88.7
6000 89.9
15,851 97.8
By knowing the 2000 English words with the highest frequency, one would know 80% of the words in those texts. The numbers look even better than this if we want to cover the words we come across in an informally spoken context.[citation needed] Then the 2000 most common words would cover 96% of the vocabulary.[10] These numbers should be encouraging to beginning language learners, especially because the numbers in the table are for word lemmas and knowing that many word families would give even higher coverage. However, the number of words needed may differ substantially between different languages.
[edit] Second Language Vocabulary Acquisition
Learning vocabulary is one of the first steps of learning a second language, yet a learner never finishes vocabulary acquisition. Whether in one’s native language or a second language, the acquisition of new vocabulary is a continual process. Many methods can help one acquire new vocabulary.
[edit] Memorization
Although memorization can be seen as tedious or boring, associating one word in the native language with the corresponding word in the second language until memorized is considered one of the best methods of vocabulary acquisition. By the time students reach adulthood, they generally have gathered a number of personalized memorization methods. Although many argue that memorization does not typically require the complex cognitive processing that increases retention (Sagarra & Alba, 2006),[11] it does typically require a large amount of repetition. Other methods typically require more time and longer to recall.
Some words cannot be easily linked through association or other methods. When a word in the second language is phonologically or visually similar to a word in the native language, one often assumes they also share similar meanings. Though this is frequently the case, it is not always true. When faced with a false cognate, memorization and repetition are the keys to mastery. If a second language learner relies solely on word associations to learn new vocabulary, that person will have a very difficult time mastering false cognates. When large amounts of vocabulary must be acquired in a limited amount of time, when the learner needs to recall information quickly, when words represent abstract concepts or are difficult to picture in a mental image, or when discriminating between false cognates, rote memorization is the method to use. A neural network model of novel word learning across orthographies, accounting for L1-specific memorization abilities of L2-learners has recently been introduced (Hadzibeganovic & Cannas, 2009).[12]
[edit] The Keyword Method
One useful method to build vocabulary in a second language is the keyword method. When additional time is available or one wants to emphasize a few key words, one can create mnemonic devices or word associations. Although these strategies tend to take longer to implement and may take longer in recollection, they create new or unusual connections that can increase retention. The keyword method requires deeper cognitive processing, thus increasing the likelihood of retention (Sagarra & Alba, 2006).[11] This method uses fits within Paivio’s (1986)[13] dual coding theory because it uses both two verbal and image memory systems. However, this method should be used only with words that represent concrete and imageable things. Abstract concepts or words that do not bring a distinct image to mind are difficult to associate. In addition, studies have shown that associative vocabulary learning is more successful with younger aged students (Sagarra & Alba, 2006).[11] As students advance and age, they tend to rely less on creating word associations to remember vocabulary.

[edit] Basic English vocabulary

Several word lists have been developed to provide people with a limited vocabulary either quick language proficiency or an effective means of communication. In 1930, Charles Kay Ogden created Basic English (850 words). Other lists include Simplified English (1000 words) and Special English (1500 words). The General Service List,[14] 2000 high frequency words compiled by Michael West from a 5,000,000 word corpus, has been used to create a number of adapted reading texts for English language learners. Knowing 2000 English words, one could understand quite a lot of English, and even read a lot of simple material without problems.

Vocabulary differences between social classes in the U.S.A.

James Flynn reports the remarkable differences in vocabulary exposure of pre-schoolers between different classes in the U.S.A. Apparently, pre-schoolers of professional families are typically exposed to 2,150 different words, pre-schoolers from working class families to 1,250 words, while those from households on welfare just 620.[15]

See also

[edit] Footnotes

  1. ^ Cambridge Advanced Learners Dictionary
  2. ^ Barnhart, Clarence L. (1968).
  3. ^ The World Book Dictionary. Clarence L. Barnhart. 1968 Edition. Published by Thorndike-Barnhart, Chicago, Illinois.
  4. ^ Miller (1989)
  5. ^ Lenkeit
  6. ^ "Vocabulary". Sebastian Wren, Ph.D. BalancedReading.com http://www.balancedreading.com/vocabulary.html
  7. ^ a b Stahl, Steven A. Vocabulary Development. Cambridge: Brookline Books, 1999. p. 3. "The Cognitive Foundations of Learning to Read: A Framework", Southwest Educational Development Laboratory, [1], p. 14.
  8. ^ E.B. Zechmeister, A.M. Chronis, W.L. Cull, C.A. D'Anna and N.A. Healy, Growth of a functionally important lexicon, Journal of Reading Behavior, 1995, 27(2), 201-212
  9. ^ W.N. Francis, and H. Kucera. Frequency Analysis of English Usage, Houghton Mifflin, Boston, 1982
  10. ^ Schonell, et al. 1956
  11. ^ a b c Sagarra, Nuria, & Alba, Matthew. (2006). The Key Is in the Keyword: L2 Vocabulary Learning Methods With Beginning Learners of Spanish. The Modern Language Journal, 90, ii. p. 228-243.
  12. ^ Hadzibeganovic Tarik & Cannas, Sergio A. (2009). A Tsallis' statistics based neural network model for novel word learning. Physica A, 388, pp. 732-746.
  13. ^ Paivio, A. (1986). Mental Representations: A Dual Coding Approach. New York: Oxford University Press.
  14. ^ West (1953)
  15. ^ Flynn (2008), p. 102.

[edit] References

  • Barnhart, Clarence Lewis (ed.) (1968). The World Book Dictionary. Chicago: Thorndike-Barnhart, OCLC 437494
  • Flynn, James Robert (2008). Where have all the liberals gone? : race, class, and ideals in America. Cambridge University Press; 1st edition. ISBN 978-0521494311 OCLC 231580885
  • Lenkeit, Roberta Edwards (2007) Introducing cultural anthropology Boston: McGraw-Hill (3rd. ed.) OCLC 64230435
  • Liu, Na and I.S.P. Nation. "Factors affecting guessing vocabulary in context", RELC Journal, 1985,16 1, pp. 33–42. doi:10.1177/003368828501600103
  • Miller, Barbara D. (1999). Cultural Anthropology(4th ed.) Boston: Allyn and Bacon, p.315 OCLC 39101950
  • Schonell, Sir Fred Joyce, Ivor G. Meddleton and B. A. Shaw, A study of the oral vocabulary of adults : an investigation into the spoken vocabulary of the Australian worker, University of Queensland Press, Brisbane, 1956. OCLC 606593777
  • West, Michael (1953). A general service list of English words, with semantic frequencies and a supplementary word-list for the writing of popular science and technology London, New York: Longman, Green OCLC 318957